{"id":3317,"date":"2024-06-07T06:22:32","date_gmt":"2024-06-07T06:22:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mawatu.co.id\/?post_type=blog&#038;p=3317"},"modified":"2024-06-07T06:22:36","modified_gmt":"2024-06-07T06:22:36","slug":"hewan-langka-di-indonesia","status":"publish","type":"blog","link":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/","title":{"rendered":"10 Hewan Langka nan Unik di Indonesia yang Dilindungi!"},"content":{"rendered":"\n<p>Indonesia menjadi salah satu negara yang punya keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Dengan ribuan pulau yang tersebar di seluruh nusantara, membuat Indonesia jadi rumah yang nyaman buat berbagai jenis flora dan fauna yang unik bahkan dilindungi yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Keanekaragaman ini justru menjadi terancam karena berbagai faktor yang ada seperti deforestasi, perburuan liat terhadap hewan hingga perubahan iklim yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Perubahan faktor ini membuat beberapa hewan menjadi langka dan perlu langkah bersama untuk melindunginya agar tetap dapat berkembang biak dengan baik untuk menjaga populasinya. <\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">10 Satwa Langka di Indonesia yang Perlu Dilindungi!<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. <strong>Komodo<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Komodo menjadi kadal terbesar di dunia yang hanya dapat ditemukan di beberapa pulau di Indonesia, seperti <a href=\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/pulau-komodo-labuan-bajo\/\">Pulau Komodo<\/a>, <a href=\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/pulau-rinca-labuan-bajo\/\">Rinca<\/a>, Flores, dan Gili Motang. Hewan ini merupakan kadal terbesar di dunia berdasarkan ukurannya ini diperkirakan memiliki populasi sekitar 3.000 individu. Hewan ini memiliki panjang hingga 3 meter membuatnya dilabeli sebagai kerabat dekat dari dinosaurus dan menjadi spesies purba yang masih hidup hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena hal tersebut, keberadaan komodo masih terus dijaga dan dilindungi. Namun, semakin berkembang dan masifnya pembangunan membuat habitatnya terancam hilang. Tak hanya itu, komodo juga mulai berkurang karena mangsa alami dan perburuan liar. <\/p>\n\n\n\n<p>Untuk melindungi <a href=\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/komodo\/\">komodo<\/a>, ada Taman Nasional Komodo yang dibuat mirip dengan habitatnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-1-1024x576.png\" alt=\"komodo\" class=\"wp-image-3289\" srcset=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-1-1024x576.png 1024w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-1-300x169.png 300w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-1-768x432.png 768w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-1.png 1200w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Komodo. Foto: VOA Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Harimau Sumatera<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pulau Sumatera menjadi salah satu pulau yang memiliki banyak keanekaragaman flora dan mauna. Salah satu yang cukup populer adalah Harimau Sumatera, subspesies harimau yang hanya ditemukan di pulau Sumatera. <\/p>\n\n\n\n<p>Populasi Harimau Sumatera pada saat ini diperkirakan kurang dari 400 ekor di alam liar. Kehilangan habitat ini diakibatkan oleh deforestasi dan perburuan liar untuk perdagangan ilegal menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup mereka. <\/p>\n\n\n\n<p>Program konservasi yang melibatkan perlindungan habitat dan penegakan hukum yang ketat sangat penting dilakukan untuk menjaga keberadaan spesies ini agar tetap ada.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-3-1024x683.png\" alt=\"Harimau Sumatera\" class=\"wp-image-3293\" srcset=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-3-1024x683.png 1024w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-3-300x200.png 300w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-3-768x512.png 768w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-3-1536x1024.png 1536w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-3-2048x1365.png 2048w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-3.png 3810w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Harimau Sumatera. Foto: Wikipedia<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Badak Jawa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Badak Jawa jadi salah satu mamalia paling langka di dunia dan hanya ada di Indonesia. Hewan ini kini hanya memiliki populasi kurang dari 75 ekor yang hanya ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Bahkan, populasi Badak Jawa semakin menurun setiap tahunnya karena kehilangan habitat, perburuan liar untuk mengincar cula yang punya nilai ekonomi tinggi serta penyakit menjadi ancaman utama. <\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menjaga agar tetap terjaga habitatnya, perlu perlindungan ketat di habitat aslinya dan program pemantauan yang intensif dari pemerintah dan bekerjasama dengan masyarakat untuk menjaga populasi yang tersisa.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"948\" height=\"583\" src=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-2.png\" alt=\"Badak Jawa\" class=\"wp-image-3291\" srcset=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-2.png 948w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-2-300x184.png 300w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-2-768x472.png 768w\" sizes=\"(max-width: 948px) 100vw, 948px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Badak Jawa. Foto: KSDAE KemenLHK<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Burung Cenderawasih<\/h3>\n\n\n\n<p>Tak hanya dari Jawa atau Sumatera, Indonesia Timur juga memiliki fauna yang cantik namun diambang kepunahan. Burung Cenderawasih, atau sering disebut sebagai burung surga, menjadi seekor ikon dari keindahan alam Papua. <\/p>\n\n\n\n<p>Burung ini memiliki bulu yang sangat indah dan tarian kawin yang spektakuler. Karena keindahan ini lah yang menjadikannya target perburuan dan perdagangan ilegal yang membuatnya beberapa spesies Cenderawasih terancam punah akibat perusakan habitat dan eksploitasi berlebihan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-4-1024x683.png\" alt=\"Burung Cenderawasih\" class=\"wp-image-3295\" srcset=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-4-1024x683.png 1024w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-4-300x200.png 300w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-4-768x512.png 768w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-4.png 1200w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Burung Cendrawasih. Foto: Antaranews.com<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Elang Jawa<\/h3>\n\n\n\n<p>Salah satu burung gagah yang jadi fauna unik dan dilindungi di Indonesia berikutnya adalah Elang Jawa. Burung ini menjadi hewan yang hanya ada dan tersebar di hutan-hutan di Pulau Jawa seperti di Gunung Slamet, Gunung Anjasmoro, Gunung Kawi, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Gunung Halimun, dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Hewan endemik yang ada di Pulau Jawa ini memiliki tubuh yang berukuran sedang sampai besar, langsing, dan panjang tubuh antara 60\u201370 cm (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor). Burung gagah nan eksotis ini sekarang masuk ke dalam Critically Endangered oleh International Union for Conservation of the Nature (IUCN) karena populasinya hanya tersisa 250 ekor saja.  Dengan semakin berkurangnya populasi Elang Jawa, perlu langkah konservasi dan tidak dilakukan perburuan liar di sekitar habitat aslinya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-5-1024x576.png\" alt=\"Elang Jawa\" class=\"wp-image-3297\" srcset=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-5-1024x576.png 1024w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-5-300x169.png 300w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-5-768x432.png 768w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-5.png 1200w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Elang Jawa. Foto: Liputan6.com<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. Kucing Merah Kalimantan<\/h3>\n\n\n\n<p>Sama seperti Elang Jawa, Kucing Merah Kalimantan menjadi salah satu spesies kucing hutan yang ada di kalimantan masuk ke dalam kategori terancam punah oleh IUCN. Kucing dengan perawakan yang lebih besar dari kucing biasa ini punya ciri khas dengan bulu berwarna merah batu bata, kebanyakan hidup di hutan tropis dengan ketinggian sekitar 800 meter, punya kepala dan badan yang panjangnya sekitar 49,5-67 sentimeter, dan ekor sepanjang 30-40,3 cm.<\/p>\n\n\n\n<p>Kucing Merah diperkirakan hanya memiliki populasi kurang dari 2000 ekor pada saat ini. Hal ini lah yang membuatnya masuk ke dalam kategori hewan yang harus dilindungi karena tempatnya semakin berkurang akibat pembabatan hutan-hutan di Kalimantan yang semakin sering terjadi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"724\" src=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-6-1024x724.png\" alt=\"Kucing Merah Kalimantan\" class=\"wp-image-3299\" srcset=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-6-1024x724.png 1024w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-6-300x212.png 300w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-6-768x543.png 768w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-6.png 1200w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Kucing Merah Kalimantan. Foto: Wikipedia<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">7. Burung Merak<\/h3>\n\n\n\n<p>Nama burung yang seperti nama pelabuhan di ujung Barat Pulau Jawa ini memang memiliki tampilan yang memukau dan indah. Dibalik keindahannya, burung yang dijuluki \u201cburung sombong\u201d ini jumlah populasinya semakin berkurang dan terancam punah. Populasi burung khas Indonesia ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 10.000-20.000 ekor merak dewasa saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Berkurangnya populasi burung dengan sayap yang indah ini dikarenakan maraknya perdagangan dan perburuan secara ilegal. Siapa pun pasti akan terpana melihat kecantikan dari bulu dan sayap yang memiliki corak berbeda dari burung pada umumnya. Karena keindahannya ini lah yang membuat banyak orang tidak bertanggung jawab ingin memilikinya meskipun dilarang untuk diperjualbelikan maupun dipelihara secara individu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-7-1024x683.png\" alt=\"Burung Merak\" class=\"wp-image-3301\" srcset=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-7-1024x683.png 1024w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-7-300x200.png 300w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-7-768x512.png 768w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-7.png 1200w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Burung Merak. Foto: kompas.com<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">8. Maleo<\/h3>\n\n\n\n<p>Bagi warga pulau Sulawesi, Maleo adalah salah satu jenis endemik besar yang cukup dilindungi keberadaannya. Hewan ini dapat ditemukan di hutan dataran rendah maupun bukit-bukit yang ada di pulau Sulawesi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai satu-satunya dari genus monotipe Macrocephalon, Maleo harus dilindungi karena populasinya yang hingga saat ini tersisa 8.000-14.000an ekor saja. Kepunahan Maleo ini disebabkan aktivitas pariwisata dan pembukaan lahan sawit yang dituding menjadi penyebab utamanya sehingga membuat Maleo masuk ke dalam hewan yang dilindungi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-10-1024x768.png\" alt=\"Maleo\" class=\"wp-image-3307\" srcset=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-10-1024x768.png 1024w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-10-300x225.png 300w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-10-768x576.png 768w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-10-1536x1152.png 1536w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-10-2048x1536.png 2048w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-10.png 2560w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Maleo. Foto: Tompotika Conservation<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">9. Burung Jalak, Bali<\/h3>\n\n\n\n<p>Selain burung Merak dan Elang Jawa, Jalak Bali menjadi salah satu spesies burung yang populasinya mulai berkurang hingga saat ini. Burung yang memiliki ciri dengan warna bulu yang kontras antara hitam dan putih ini punya panjang tubuh berukuran 25-28 cm, serta memiliki ciri khas suara yang indah dan memiliki sifat sering berkelompok.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Populasinya yang semakin berkurang membuat hewan ini masuk ke dalam kategori hewan langka dan dilindungi. Konservasi menjadi langkah konkrit agar kita semua bisa menikmati keindahan suara dari burung ini.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"577\" src=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-11-1024x577.png\" alt=\"Burung Jalak, Bali\" class=\"wp-image-3309\" srcset=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-11-1024x577.png 1024w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-11-300x169.png 300w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-11-768x433.png 768w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-11.png 1200w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Jalak Bali. Foto: Detiktravel<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">10. Musang Congkok<\/h3>\n\n\n\n<p>Musang Congkok adalah hewan langka yang dapat ditemukan di wilayah pegunungan Aceh dan Sumatera Barat. Hewan ini punya ciri khas kegesitannya ini memiliki panjang sekitar 71cm dan berat yang mencapai 5kg. Selain itu juga suka memangsa mamalia kecil dan serangga.<\/p>\n\n\n\n<p>Nama Musang Congkok mungkin asing di telinga kita. Namun, populasinya kini semakin sedikit dan semakin susah untuk ditemui keberadaanya. Hal ini lah yang membuat Musang Congkok menjadi salah satu hewan yang dilindungi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"400\" src=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-12.png\" alt=\"Musang Congkok\" class=\"wp-image-3311\" style=\"aspect-ratio:1.3333333333333333;object-fit:cover;width:840px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-12.png 600w, https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-12-300x200.png 300w\" sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Musang Congkok. Foto: IDN Times<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size\"><\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":3270,"template":"","class_list":["post-3317","blog","type-blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.6 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>10 Hewan Langka nan Unik di Indonesia yang Dilindungi! - Mawatu<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Hewan langka di Indonesia paling dilindungi. Ketahui satwa langka dan jumlahnya saat ini di Indonesia. Informasi fauna yang beragam.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"10 Hewan Langka nan Unik di Indonesia yang Dilindungi! - Mawatu\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Hewan langka di Indonesia paling dilindungi. Ketahui satwa langka dan jumlahnya saat ini di Indonesia. Informasi fauna yang beragam.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Mawatu\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-06-07T06:22:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/joshua-j-cotten-VCzNXhMoyBw-unsplash.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/\",\"url\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/\",\"name\":\"10 Hewan Langka nan Unik di Indonesia yang Dilindungi! - Mawatu\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/joshua-j-cotten-VCzNXhMoyBw-unsplash.jpg\",\"datePublished\":\"2024-06-07T06:22:32+00:00\",\"dateModified\":\"2024-06-07T06:22:36+00:00\",\"description\":\"Hewan langka di Indonesia paling dilindungi. Ketahui satwa langka dan jumlahnya saat ini di Indonesia. Informasi fauna yang beragam.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/joshua-j-cotten-VCzNXhMoyBw-unsplash.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/joshua-j-cotten-VCzNXhMoyBw-unsplash.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1280,\"caption\":\"komodo\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"10 Hewan Langka nan Unik di Indonesia yang Dilindungi!\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/\",\"name\":\"Mawatu\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/#organization\",\"name\":\"Mawatu\",\"url\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/logo.png\",\"width\":247,\"height\":191,\"caption\":\"Mawatu\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/mawatu.co.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"10 Hewan Langka nan Unik di Indonesia yang Dilindungi! - Mawatu","description":"Hewan langka di Indonesia paling dilindungi. Ketahui satwa langka dan jumlahnya saat ini di Indonesia. Informasi fauna yang beragam.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"10 Hewan Langka nan Unik di Indonesia yang Dilindungi! - Mawatu","og_description":"Hewan langka di Indonesia paling dilindungi. Ketahui satwa langka dan jumlahnya saat ini di Indonesia. Informasi fauna yang beragam.","og_url":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/","og_site_name":"Mawatu","article_modified_time":"2024-06-07T06:22:36+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1280,"url":"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/joshua-j-cotten-VCzNXhMoyBw-unsplash.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/","url":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/","name":"10 Hewan Langka nan Unik di Indonesia yang Dilindungi! - Mawatu","isPartOf":{"@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/joshua-j-cotten-VCzNXhMoyBw-unsplash.jpg","datePublished":"2024-06-07T06:22:32+00:00","dateModified":"2024-06-07T06:22:36+00:00","description":"Hewan langka di Indonesia paling dilindungi. Ketahui satwa langka dan jumlahnya saat ini di Indonesia. Informasi fauna yang beragam.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/#primaryimage","url":"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/joshua-j-cotten-VCzNXhMoyBw-unsplash.jpg","contentUrl":"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/joshua-j-cotten-VCzNXhMoyBw-unsplash.jpg","width":1920,"height":1280,"caption":"komodo"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/blog\/hewan-langka-di-indonesia\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"10 Hewan Langka nan Unik di Indonesia yang Dilindungi!"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/#website","url":"https:\/\/mawatu.co.id\/","name":"Mawatu","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/mawatu.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/#organization","name":"Mawatu","url":"https:\/\/mawatu.co.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/logo.png","contentUrl":"https:\/\/mawatu.co.id\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/logo.png","width":247,"height":191,"caption":"Mawatu"},"image":{"@id":"https:\/\/mawatu.co.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/blog\/3317"}],"collection":[{"href":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/blog"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mawatu.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3317"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}